RAKYATMONITORING|ROKAN HILIR – Bagansiapiapi’25 Juni 2026 Kerusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kepenghuluan Pasir Limau Kapas, Kecamatan Pasir Limau Kapas, kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan pembukaan lahan secara masif yang mencapai sekitar 90 hingga 100 hektare dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah titik yang diduga terdampak berada di kawasan pesisir seperti Sungai Sanggul, Sungai Siandam serta wilayah Batang Kopau dan Sungai Siakap Kecil. Area tersebut diketahui merupakan bagian dari kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang berada dalam skema Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK).
Informasi di lapangan menyebutkan, aktivitas pembukaan lahan diduga telah berlangsung sejak awal tahun 2026 dengan menggunakan alat berat. Perubahan tutupan mangrove yang cukup cepat itu menimbulkan kekhawatiran luas, terutama karena kawasan tersebut sebelumnya merupakan hasil program rehabilitasi dan perhutanan sosial masyarakat.
Sejumlah warga mengaku telah melaporkan dugaan aktivitas tersebut kepada instansi terkait. Aparat dari pemerintah daerah hingga tim penegakan hukum lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disebut telah turun melakukan pengecekan lapangan, termasuk pemantauan menggunakan teknologi drone.
Namun hingga kini, masyarakat menilai belum ada kejelasan mengenai siapa pihak yang bertanggung jawab penuh atas dugaan perambahan tersebut. Situasi ini memunculkan desakan agar aparat penegak hukum bertindak lebih tegas.
Warga dan pemerhati lingkungan kini secara terbuka meminta perhatian serius dari Kepolisian Daerah Riau, khususnya Kapolda Riau, untuk segera mengusut tuntas kasus ini dan mengungkap aktor utama di balik dugaan pembabatan mangrove berskala besar tersebut.
Masyarakat menilai, penanganan yang hanya berhenti pada level lapangan tidak cukup tanpa adanya pengungkapan pihak yang diduga menjadi pengendali atau penanggung jawab utama di balik aktivitas pembukaan lahan tersebut.
“Kami berharap Kapolda Riau bisa turun tangan serius. Jangan hanya pelaku di lapangan, tapi juga aktor utama di balik semua ini harus diungkap,” ujar masyarakat kepada tim redaksi Rakyatmonitoring.com
Kerusakan mangrove ini dikhawatirkan berdampak panjang terhadap ekosistem pesisir, mulai dari meningkatnya abrasi, ancaman intrusi air laut, hingga terganggunya mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil laut.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik luas. Desakan agar penegakan hukum dilakukan secara menyeluruh terus menguat, seiring harapan agar kawasan mangrove yang tersisa dapat segera diselamatkan dari kerusakan lebih lanjut.
Redaksi













